Psikolog Anak & Remaja – Bunda Lucy

Apa Itu Obsessive Love Disorder

Pernah merasa dicintai atau mencintai seseorang secara berlebihan? Kondisi ini disebut dengan obsessive love disorder. Alih-alih menjalani hubungan yang sehat, orang dengan obsessive love disorder justru bisa bersikap terlalu protektif, menuntut, dan mengekang pasangannya.

Dalam ranah psikologi, Obsessive Love Disorder (OLD) menjadi sorotan sebagai suatu kondisi yang memerlukan pemahaman mendalam. Artikel ini akan membahas esensi dari Obsessive Love Disorder, memecahkan makna di balik istilah tersebut, dan memberikan wawasan terkait gejala serta dampaknya dalam hubungan interpersonal.

Obsessive Love Disorder

Obsessive love disorder (OLD) adalah suatu kondisi di mana seseorang menjadi terobsesi terhadap orang yang sangat dicintainya. Hal ini bisa terjadi pada orang yang sudah menjalin hubungan pernikahan maupun pacaran. Selain itu, OLD juga bisa dialami oleh orang yang tidak memiliki hubungan dengan orang yang dicintainya, tapi merasa orang yang dicintainya tersebut juga mencintai dirinya. Kondisi ini terjadi pada gangguan kejiwaan yang disebut erotomania.

Ciri-Ciri Obsessive Love Disorder

Rasa cinta yang berlebihan membuat seseorang dengan obsessive love disorder merasa perlu untuk menjaga dan melindungi orang yang dicintainya. Bahkan, mereka mengendalikan orang yang dicintainya itu seolah-olah ia sudah sepenuhnya menjadi miliknya. Terlepas dari karakteristik cinta yang sehat, individu dengan OLD cenderung menunjukkan perilaku yang tidak seimbang dan menghambat kehidupan sehari-hari mereka.

Gejala obsessive love disorder mungkin saja tidak muncul pada awal hubungan, tapi dapat terus berkembang dan baru terlihat seiring berjalannya waktu. Gejala OLD pun bisa semakin terlihat ketika orang yang dicintai menolak cintanya.

Berikut adalah beberapa tanda atau ciri-ciri yang menunjukkan bahwa seseorang mengalami obsessive love disorder:

  • Ingin selalu menghabiskan waktu bersama, tetapi dengan waktu yang berlebihan.
  • Cemburu yang berlebihan dan overprotektif terhadap pasangan atau orang yang disukai.
  • Berusaha membatasi kehidupan sosial orang yang dicintainya.
  • Berpikir dan bertindak posesif, misalnya selalu ingin mengetahui dan memantau kegiatan orang yang dicintainya. Ia juga biasanya terus-menerus menghubungi orang yang dicintainya melalui pesan teks atau telepon untuk mengetahui keadaannya.
  • Berusaha untuk mengendalikan kehidupan pribadi orang yang dicintainya, misalnya dalam hal keuangan atau hubungan sosial.
  • Merasa bahagia yang berlebihan ketika berhasil menghubungi atau mengatur orang yang dicintainya.

Dampak Terhadap Hubungan

Obsessive Love Disorder dapat memiliki dampak serius pada hubungan interpersonal. Pasangan yang menjadi sasaran obsesi mungkin merasa terkekang dan stres, sementara individu dengan OLD mungkin mengalami isolasi sosial karena perilaku mereka yang mendominasi.

Penyebab Obsessive Love Disorder

Hingga saat ini, penyebab obsessive love disorder belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga berkaitan dengan beberapa gangguan mental, seperti:

  • Delusi yang menimbulkan rasa cemburu atau sindrom Othello
  • Gangguan bipolar
  • Obsessive compulsive disorder (OCD)
  • Gangguan kepribadian paranoid
  • Attachment disorder, yaitu gangguan mental yang membuat penderitanya merasa susah menjalin hubungan atau justru terlalu terikat secara emosional terhadap orang lain
  • Borderline personality disorder (BPD)

Selain itu, riwayat trauma psikologis, misalnya pernah ditinggalkan oleh orang yang dicintai atau sakit hati karena pernah diselingkuhi, juga bisa membuat seseorang lebih berisiko mengalami OLD.

Cara Mengatasi Obsessive Love Disorder

Menghadapi Obsessive Love Disorder memerlukan pendekatan holistik. Terapi psikologis, dukungan sosial, dan kesadaran diri dapat menjadi langkah-langkah kunci untuk mengelola dan meresapi kembali hubungan yang sehat.

Karena obsessive love disorder sering kali dipicu oleh gangguan psikologis lain, orang yang mengalami kondisi ini sebaiknya memeriksakan diri ke psikiater atau psikolog.

Untuk menentukan penyebab obsessive love disorder, psikiater atau psikolog akan melakukan pemeriksaan kejiwaan. Setelah penyebabnya diketahui, baru dapat ditentukan jenis penanganan yang tepat, di antaranya adalah dengan pemberian obat-obatan seperti obat antidepresan, antispikotik, dan obat untuk menjaga mood tetap stabil. Selain itu, dokter juga mungkin akan memberikan resep obat penenang atau pereda kecemasan jika kondisi ini disebabkan oleh gangguan kecemasan. Di samping pemberian obat-obatan, orang yang memiliki OLD juga bisa ditangani dengan psikoterapi, seperti terapi perilaku kognitif.

Mencintai seseorang terlalu berlebihan hingga terobsesi ingin mengendalikan hidupnya tentu bukan hal yang baik. Tidak hanya merugikan orang lain, kondisi ini juga membuat penderitanya kesulitan untuk fokus dalam bekerja dan beraktivitas, serta mengganggu kehidupan sosialnya dan orang yang dicintainya. Obsessive Love Disorder, meskipun tidak umum, adalah suatu kondisi yang memerlukan perhatian dan pemahaman mendalam. Dengan pengetahuan yang tepat dan pendekatan yang sesuai, individu yang terkena dapat menemukan jalan menuju hubungan yang lebih seimbang dan bermakna.

Jika obsesi terhadap orang yang kamu cintai sudah mengganggu kehidupanmu dan dirinya, sebaiknya berkonsultasilah dengan psikolog atau psikiater sebelum kondisi ini justru menghancurkan hubunganmu dengannya.

Untuk mendapatkan bantuan menangani masalah kesehatan mental silahkan hubungi HelpLine : 085829293939, Atau buat janji temu di Smart Talent Psychology Art Center dengan klik link berikut : https://wa.link/vh0phf

Tags :
Freebies
Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post :

Bunda Lucy - Psikolog Anak Jakarta

Bunda Lucy

Psikolog Profesional