Psikolog Anak & Remaja – Bunda Lucy

Eksplorasi Art Play Therapy sebagai Pendekatan Terapi untuk Mengelola Perilaku Agresi pada Anak dengan Riwayat Trauma

Dalam realitas kompleks dunia masa kini, anak-anak sering kali menghadapi berbagai tantangan dan tekanan yang dapat berdampak signifikan pada perkembangan dan kesejahteraan mereka. Salah satu tantangan yang sering muncul adalah perilaku agresi, yang dapat merugikan diri sendiri, hubungan sosial, dan lingkungan sekitar. Lebih lanjut, anak-anak yang mengalami trauma pada tahap perkembangan mereka dapat berisiko mengalami peningkatan perilaku agresi. Trauma, baik fisik maupun emosional, dapat memicu reaksi yang merugikan, termasuk respon agresif terhadap lingkungan sekitar. Ekman (2003) berpendapat bahwa agresi dapat menyebabkan adanya dinamika yang tidak berjalan baik dalam komunitas karena merupakan tanda adanya kesulitan dalam penyesuaian diri serta mendorong individu untuk bertikai dengan individu lainnya. Dengan kata lain, dengan karakteristik panti asuhan yang mana terdapat banyak sekali anak asuh atau anak binaan maka hal ini dapat mengakibatkan adanya pertikaian yang membuat kekacauan dalam dinamika panti asuhan. Perilaku agresif yang dimiliki seseorang sejak masa anak-anak dapat terus menetap dalam diri hingga seseorang itu beranjak dewasa jika tidak mendapat penanganan yang baik (Ningsih, 2008). Oleh sebab itu, pembentukan perkembangan diri yang positif merupakan hal penting yang harus dipersiapkan sejak dini. Perilaku agresi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Shechtman (2009) terdapat empat faktor yang menyebabkan perilaku agresi. Faktor yang pertama adalah faktor biologis, genetik, dan temperamen. Faktor kedua adalah cara didik keluarga. Faktor ketiga adalah pengaruh sosial, termasuk sistem sosial secara mikro dan makro. Pada level makro terdapat aturan-aturan dan norma budaya dari lingkungan sekitar. Misalkan pada budaya yang menuntut anak untuk laki-laki untuk lebih agresif. Sedangkan level mikro meliputi teman-teman dan lingkungan misalnya di sekolah. Anak belajar norma yang terdapat di dalam lingkungannya sehingga anak bertindak sama agar dirinya dapat diterima oleh teman-temannya. Ketika norma yang ada mendukung perilaku agresi, maka anak yang tadinya kurang agresif cenderung menjadi lebih agresif (Shechtman, 2009). Faktor yang keempat adalah kesulitan belajar. Anak yang mengalami kesulitan belajar cenderung memiliki kesulitan sosial, kesepian dan kesulitan dalam memproses informasi yang ada dan dalam mengontrol perilaku. Hal ini membuat adanya kecenderungan yang lebih tinggi untuk anak menjadi lebih agresif (Shechtman, 2009).

Salah satu pendekatan yang menarik perhatian dalam mengatasi perilaku agresi pada anak dengan riwayat trauma adalah Art Play Therapy. Art Play Therapy menggabungkan seni kreatif dan terapi untuk memberikan saluran ekspresi alternatif bagi anak-anak yang kesulitan dalam berkomunikasi dan mengelola emosi mereka. Dengan menggunakan seni visual, musik, gerakan, dan ekspresi kreatif lainnya, art play therapy menciptakan ruang yang aman bagi anak untuk mengungkapkan perasaan, meredam ketegangan, dan memproses pengalaman traumatis.

Pengalaman kreatif ini memberikan sarana yang efektif untuk menjelajahi dan mengatasi perasaan dan pikiran yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Art Play Therapy juga mengutamakan aspek positif dan penguatan keterampilan. Melalui proses kreatif ini, anak-anak dapat mengembangkan keterampilan sosial-emosional, merangsang imajinasi, meningkatkan pemahaman diri, dan membangun mekanisme koping yang lebih adaptif. Dalam konteks anak-anak dengan riwayat trauma, art play therapy dapat membantu mereka memproses pengalaman traumatis dengan cara yang lebih konstruktif, mengurangi risiko perilaku agresif yang mungkin muncul sebagai bentuk pelampiasan.

Tags :
Freebies
Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post :

Bunda Lucy - Psikolog Anak Jakarta

Bunda Lucy

Psikolog Profesional