Psikolog Anak & Remaja – Bunda Lucy

Kant gagal membangun radical reflection dalam ilmu sosial

(Source : Radical Reflection – Calvin Schrag-BAB 2)

Immanuel Kant adalah seorang filsuf terkenal dari abad ke-18 yang memiliki kontribusi besar dalam berbagai bidang filosofi, termasuk etika, metafisika, dan epistemologi. Namun, ketika datang ke pengembangan “radical reflection” dalam ilmu sosial, beberapa kritikus dan akademisi berpendapat bahwa pandangan Kant memiliki beberapa keterbatasan dan kegagalan. Pemikiran Immanuel Kant, khususnya dalam karyanya yang berjudul “Kritik der Urteilskraft” atau “Kritik of Judgment” tidak selalu dianggap berhasil dalam membangun refleksi radikal yang sesuai dengan ilmu sosial. Kerangka kerja penyelidikan ini dilanjutkan dalam refleksi Kant tentang antropologi dalam bukunya Introduction to Logic, yang terbit pada tahun 1800. Namun, dalam karya yang muncul kemudian ini, sebuah keistimewaan diberikan pada pertanyaan antropologis “Apakah manusia itu?” yang tidak dijelaskan secara eksplisit dalam karyanya yang terdahulu. Setelah mendefinisikan filsafat sebagai “ilmu pengetahuan tentang hubungan semua pengetahuan dan setiap penggunaan akal budi dengan tujuan akhir akal budi manusia, yang mana, sebagai tujuan tertinggi, semua tujuan lainnya tunduk padanya, dan harus digabungkan menjadi kesatuan di dalamnya,” Oleh karena itu, kritisisme sangat berbeda dengan corak Rasial modern sehelumnya yang lebih mempercayai kemampuan rasio secara mutlak. Kritisisme gagasan Immanuel Kant ini lebih condong pada teori pengetahuan, etika dan estetika. Kant meringkas pertanyaan-pertanyaan dasar yang melintasi bidang filsafat dengan empat pertanyaan yang saling terkait: Apa yang dapat saya ketahui? Apa yang harus saya lakukan? Apa yang dapat saya harapkan? Apakah manusia itu? Mengomentari pertanyaan-pertanyaan ini, Kant memberi tahu kita: “Pertanyaan pertama dijawab oleh Metafisika, pertanyaan kedua oleh Moral, pertanyaan ketiga oleh Agama, dan pertanyaan keempat oleh Antropologi. Meskipun Kant merupakan tokoh penting dalam sejarah filsafat dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam berbagai bidang, ada beberapa alasan mengapa pemikiran Kant dinilai kurang berhasil dalam membangun refleksi radikal dalam ilmu sosial.

Dari ketiga pertanyaan mendasar di atas dapat disimpulkan bahwa:

  1. Anggapan berpusat pada subjek dan bukan pada objek belaka.
  2. Penegasan atas keterbatasan rasio manusia untuk mengetahui realitas atau hakikat sesuatu, rasio hanya mampu menjangkau gejala atau fenomenanya saja.
  3. Pengenalan manusia atas sesuatu merupakan perpaduan antara unsur a priori yang berasal dari rasio dan unsur a posteriori yang berasal dari pengalaman berupa maters

Kant bermaksud untuk memugar sifat objektivitas dunia ilmu pengetahuan dengan menyepadankan unsur rasionalisme dan unsur empirisme. Karena unsur rasionalisme dianggap tidak memperhatikan pengalaman sedangkan unsur empirisme lebih mementingkan pengalaman dan aspek dinamisasi namun tidak memiliki konsep penggambaran pengalaman. Usaha Kant adalah menyimpulkan dan mengatasi dua aliran tersebut, satu sisi ia pertahankan semisal objektivitas, universalitas dan keniscayaan pengertian. Sedangkan di pihak lain ia terima pengertian titik tolak dari fenomena yang tidak melebihi batasan-batasannya. Pengetahuan dicapai melalui suatu perpaduan konsep dengan pengalaman. Kant menyebutnya sebagai transendental, yang berarti tidak dapat diamati sebagai suatu proses tetapi selalu harus diandaikan sebagai sebuah akibat Menurut Kant, baik rasionalisme maupun empirisme keduanya berat sebelah. Ia coba jelaskan bahwa pengalaman manusia merupakan paduan antara dua sintesa di atas. Akan tetapi berbcda dengan para pemikir abad pertengahan yang lain, dasar Kant lebih pada epistimologis daripada metafisika. Dengan bertujuan pada kritik validitas ilmu pengetahuan, menguji operasionalitasnya dan menentukan batas-batas ilmu pengetahuan itu sendiri.

Pada intinya, “radical reflection” dalam konteks ilmu sosial mengacu pada pendekatan yang menggali akar-akar masalah sosial dan struktur masyarakat untuk memahami mereka dengan lebih mendalam dan kritis. Beberapa alasan mengapa Kant dianggap gagal dalam membangun “radical reflection” dalam ilmu sosial antara lain:

  1. Pemahaman Kant tentang moralitas dan rasionalitas sering kali bersifat universal dan terkadang mengabaikan faktor-faktor historis, budaya, dan sosial yang dapat memengaruhi perilaku manusia. Ini bisa menyebabkan dia gagal memperhitungkan konteks sosial yang lebih spesifik dan perbedaan yang signifikan antara berbagai situasi sosial. Kant cenderung mengabaikan peran konteks sosial dalam membentuk individu dan tindakan mereka. Dia lebih fokus pada aspek-aspek individu dan prinsip-prinsip moral yang bersifat universal, tanpa mempertimbangkan bagaimana struktur sosial dan faktor-faktor kontekstual lainnya dapat memengaruhi pandangan dan tindakan manusia.
  2. Pemikiran Kant lebih terfokus pada epistemologi dan filsafat pengetahuan, bukan pada analisis sosial yang lebih mendalam. Pemikirannya lebih berorientasi pada subjek pengetahuan dan struktur pengetahuan, daripada pada dinamika sosial, politik, dan ekonomi yang menjadi pusat perhatian dalam ilmu sosial.
  3. Kant dalam karyanya yang terkenal, “Kritik Akal Murni” (Critique of Pure Reason), mengembangkan konsep-konsep kritis yang sangat terfokus pada epistemologi dan metodologi dalam ilmu pengetahuan. Namun, banyak kritikus berpendapat bahwa pendekatan Kant tidak sepenuhnya relevan atau efektif ketika diterapkan pada ilmu sosial. Ilmu sosial melibatkan kompleksitas variabel-variabel manusia yang sulit dipahami hanya melalui analisis epistemologis. Kant lebih cenderung menggunakan pendekatan filosofis-deduktif daripada metode empiris dalam membangun pandangannya tentang ilmu sosial. Ini dapat dianggap sebagai kelemahan karena ilmu sosial cenderung mengandalkan pengamatan empiris, analisis data, dan metode ilmiah untuk memahami pola-pola sosial dan perilaku manusia.
  4. Konsep Kant tentang “dunia nyata” dan “dunia intelektual” (noumena dan fenomena) dapat membatasi pemahaman kita terhadap realitas sosial. Dalam ilmu sosial, sangat penting untuk memahami konteks sosial dan historis dalam analisis, tetapi pemisahan antara dunia nyata dan intelektual dalam filsafat Kant dapat menghambat kemampuan untuk memahami realitas sosial dengan lebih mendalam.
  5. Kant menganut pemisahan antara fakta dan nilai, yang berarti bahwa penilaian moral tidak harus didasarkan pada faktor-faktor empiris. Namun, dalam ilmu sosial, seringkali sulit untuk memisahkan sepenuhnya fakta dan nilai, karena banyak masalah sosial melibatkan pertimbangan etika dan normatif yang kompleks.
  6. Kant cenderung tidak memberi cukup perhatian pada faktor-faktor struktural yang membentuk masyarakat, seperti ekonomi, politik, dan budaya. Ini berarti bahwa pendekatan Kant mungkin kurang mampu menghadapi masalah-masalah struktural yang berkontribusi pada ketidaksetaraan sosial.

– disadur oleh Bunda Lucy-

Tags :
Academy
Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post :

Bunda Lucy - Psikolog Anak Jakarta

Bunda Lucy

Psikolog Profesional