Psikolog Anak & Remaja – Bunda Lucy

Kesalahan Mendidik Anak yang Memicu Trauma

Setiap orang tua punya caranya masing-masing dalam mendidik anak. Namun, ada beberapa tindakan yang tanpa disadari bisa menimbulkan trauma. Anak kemudian bisa mengingat kenangan-kenangan negatif tersebut hingga dewasa bahkan memengaruhi perilakunya di masa mendatang. 

Penelitian yang dipublikasikan pada National Child Traumatic Stress Network, menunjukkan kalau sebagian besar orang dewasa yang mengidap PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) memiliki pengalaman traumatis saat kecil. Sebagai orang tua atau pengasuh, tanggung jawab untuk mendidik anak merupakan suatu peran yang krusial. Namun, seringkali, tanpa pemahaman yang cukup, kesalahan dalam metode pendidikan dapat berakibat serius pada kesejahteraan emosional anak.

Mendidik anak dengan baik dan konsisten memang menjadi tugas yang menantang bagi orang tua. Meski demikian, bukan berarti hal itu mustahil.

oleh sebab itu ada bebrapa hal yang harus dihindari orangtua dalam mendidik anak agar tidak menimbulkan trauma, yaitu sebagai berikut :

  • Memukul dan memaki anak

Seringkali, orang tua sampai tersulut emosi karena sulit mendisiplinkan anak. Akibat amarah yang tak terbendung, tanpa sadar orang tua melayangkan tamparan dan pukulan pada anak. Selain fisik, umpatan dan makian juga bisa terlontar saat emosi tidak terkendali. Tak hanya menimbulkan rasa takut, tindakan tersebut tentu saja bisa menimbulkan trauma fisik dan psikis pada anak.

  • Terlalu mengatur

Anda hanya mengatur apapun yang dilakukan anak, tanpa mendukung hobinya. Anda tidak memberikannya pilihan sehingga membuat anak merasa terkekang. Anak yang tidak merasa diberikan kebebasan berekspresi dan berpendapat dapat merasa semakin “jauh” dari orangtuanya. Cara mendidik seperti ini dapat memicu atau memperburuk risiko depresi pada anak.

  • embanding-bandingkan anak

Sebagian besar orang tua suka membanding-bandingkan anak dengan dalih memberi contoh yang baik atau memotivasi anak. Namun, anak yang masih terlalu kecil belum bisa memahami arti dari ucapan orang tua. Justru, perilaku membanding-bandingkan membuatnya tidak pernah dihargai. Apabila terjadi secara terus menerus, Si Kecil bisa stres, penurunan harga diri, sampai mengalami social anxiety. 

  • Tidak menunjukkan kasih sayang dan dukungan

Anda tidak menunjukkan kasih sayang pada anak. Misalnya dengan tidak memberi pelukan. Hal tersebut akan membuat anak merasa tidak memiliki ikatan emosional yang kuat dengan orangtua. Selain itu, jika Anda tidak memberi dukungan ketika anak membutuhkannya, dan malah memilih mementingkan pekerjaan semata, anak bisa merasa depresi.

  • Tidak memberi contoh yang baik

Pepatah mengatakan anak adalah cerminan orangtua. Sudah sepatutnya orang tua berisaha memberikan contok yang baik dan menjadi teladan bagi Si Kecil. Misalnya, jika ayah dan ibu ingin dipatuhi dan didengar oleh anak, beri perhatian sepenuh hati pada Si Kecil. Sebaliknya, jika perilaku orang tua kasar, tidak peduli dan kurang perhatian, tidak menutup kemungkinan anak akan mencontohnya. Trauma yang membekas pada dirinya akan membentuk pribadi yang berperilaku negatif. 

  • Gengsi untuk meminta maaf

Orang tua seringkali menganggap dirinya selalu benar dan anak harus menuruti setiap kemauan mereka. Padahal, orang tua juga manusia yang tak luput dari kesalahan. Sayangnya, tidak semua orang tua bersedia meminta maaf kepada anak.  Alih-alih meminta maaf, anak justru dimarahi ketika mencoba mengoreksi kesalahan orang tua. Hal ini bisa membuat anak takut mengutarakan pendapat maupun perasaannya di kemudian hari. Akibatnya, anak menjadi tertutup, kurang percaya diri atau bahkan mengikuti jejak orang tua, yaitu gengsi untuk meminta maaf. 

Cara mendidik yang baik untuk mencegah anak trauma dan depresi

Anda harus menerapkan didikan yang baik untuk mencegah terjadinya depresi pada anak. Didikan yang baik tentu dapat berpengaruh positif bagi psikologi anak. Anak yang tumbuh besar dengan kasih sayang dan dukungan positif dari orangtua berisiko lebih kecil untuk mengalami depresi. Maka itu, tunjukkanlah rasa cinta, empati, kehangatan, dan perhatian pada anak.

Buatlah obrolan terbuka, dan pahamilah perasaan anak. Berikanlah batasan yang sesuai, dan tak berlebihan. Hal tersebut merupakan cara terbaik dalam membantu anak Anda menghindari derepsi. Anda juga dapat membantu anak Anda menghadapi tekanan emosional dengan memberi respons emosional yang positif. Pahamilah perasaan anak Anda, dan jangan menghakiminya sehingga membantu anak menghindari depresi.

Jangan panik pula bila anak Anda memiliki banyak teman atau sedikit teman. Anda dapat berbicara dengan anak Anda tentang perbedaan dalam pertemanan yang merupakan hal biasa. Selain menghindari kesalahan cara mendidik anak, orangtua juga perlu melibatkan anak dalam menentukan pilihan untuk hidupnya sendiri.

Mendidik anak adalah tanggung jawab besar yang membutuhkan perhatian dan pemahaman yang mendalam. Menghindari kesalahan-kesalahan klasik yang dapat menyebabkan trauma emosional menjadi langkah krusial untuk memastikan masa depan anak yang sehat secara emosional dan psikologis.

Jika membutuhkan pendampingan dari psikolog ahli untuk mendapatkan bantuan menangani masalah kesehatan mental dan parenting keluarga silahkan hubungi HelpLine : 085829293939, Atau buat janji temu di Smartalent Psychology Art Center dengan klik link berikut : https://wa.link/vh0phf

Tags :
Freebies
Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post :

Bunda Lucy - Psikolog Anak Jakarta

Bunda Lucy

Psikolog Profesional