Psikolog Anak & Remaja – Bunda Lucy

Alasan Utama Kenapa Gen-Z Rentan Terkena Masalah Mental

Dalam era yang terus berkembang ini, generasi Z atau yang sering disebut Gen Z, dihadapkan pada berbagai tantangan yang dapat berdampak signifikan pada kesejahteraan mental mereka. Generasi Z (sering disingkat menjadi Gen Z), yang dalam bahasa sehari-hari dikenal sebagai zoomer, Para peneliti dan media populer menggunakan pertengahan hingga akhir tahun 1990-an sebagai tahun awal kelahiran dan awal tahun 2010-an sebagai tahun akhir kelahiran Gen Z. Namun klasifikasi rentang tahun kelahiran Gen Z atau Generasi Z yang digunakan di Indonesia berawal dari tahun 1997–2012 berdasarkan data resmi yang ditetapkan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia pada Sensus Penduduk tahun 2020.

Generasi Z hidup di era digital yang penuh dengan tekanan sosial dan eksposur yang konstan terhadap dunia maya. Teknologi yang terus berkembang pesat dapat menciptakan tekanan tambahan dan ekspektasi yang tinggi, yang mungkin menjadi salah satu penyebab meningkatnya masalah kesehatan mental di kalangan Gen Z. salah satu masalah kesehatan mental yang rentang terjadi pada Gen z adalah Depresi, Depresi adalah salah satu jenis gangguan mental yang rentan dialami oleh Generasi Z atau Gen Z. Berdasarkan penelitian University College London, tingkat depresi Gen Z dua pertiga lebih tinggi daripada millenial.

Bahkan, berdasarkan hasil riset Pew Research Center, sekitar 70 persen remaja dari berbagai ras, jenis kelamin, dan tingkat pendapatan keluarga mengalami kecemasan dan depresi. Melansir dari McKinsey Health Institute, menurut survei Gen Z Global 2022, perempuan Gen Z dua kali lipat lebih berisiko memiliki kesehatan mental yang buruk jika dibandingkan dengan laki-laki. Sebagian besar negara menunjukkan bahwa Gen Z memiliki kesehatan mental yang buruk tanpa ada penyebab pasti.

Namun, McKinsey Health Institute menarik kesimpulan bahwa ada beberapa faktor khusus usia yang dapat memengaruhi kesehatan mental Gen Z, seperti tahap perkembangan, tingkat keterlibatan dengan layanan kesehatan, sikap keluarga atau masyarakat, dan media sosial.

Kompetisi di dunia akademis semakin ketat, dan Gen Z sering kali merasakan tekanan untuk mencapai standar yang tinggi. Beban tugas, ujian, dan ekspektasi yang tinggi dari lingkungan pendidikan dapat menjadi beban berat bagi kesehatan mental mereka. Berdasarkan laporan survei yang sama, Gen Z yang menghabiskan lebih dari dua jam sehari untuk menggunakan media sosial cenderung memiliki kondisi kesehatan mental yang buruk. Bila dibandingkan dengan generasi lainnya, Gen Z adalah generasi yang paling banyak memperoleh dampak negatif dari media sosial. Walaupun terhubung secara digital, Gen Z juga dapat mengalami isolasi sosial. Interaksi di media sosial yang sering kali tidak autentik dapat menciptakan perasaan kesepian dan tidak berarti, memberikan dampak negatif terhadap kesehatan mental.

Gaya hidup yang serba cepat dan kurangnya fokus pada keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi juga dapat mempengaruhi kesehatan mental Gen Z. Kelelahan fisik dan mental akibat tekanan hidup sehari-hari dapat menjadi pemicu masalah mental, sebagian besar perempuan Gen Z mengaku, media sosial memberikan dampak negatif berupa rasa takut tertinggal tren baru atau Fear of Missing Out/FOMO (32 persen), khawatir terhadap citra tubuh (32 persen), dan kepercayaan diri (13 persen).

Dalam upaya untuk memahami dan mengatasi masalah mental yang dihadapi oleh Gen Z, penting bagi kita untuk mempertimbangkan faktor-faktor yang memainkan peran kunci dalam kesehatan mental mereka. Dengan meningkatkan kesadaran akan tantangan ini, masyarakat dapat bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung dan mempromosikan kesejahteraan mental generasi muda.

Tags :
Freebies
Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post :

Bunda Lucy - Psikolog Anak Jakarta

Bunda Lucy

Psikolog Profesional