Psikolog Anak & Remaja – Bunda Lucy

Apa Itu Kleptomania

Dalam dunia kesehatan mental, kleptomania menjadi salah satu gangguan yang menarik perhatian. Meskipun terkadang dianggap sebagai perilaku kriminal, kleptomania sebenarnya adalah gangguan impuls kontrol yang memengaruhi individu secara psikologis. Artikel ini bertujuan untuk memberikan wawasan mendalam mengenai kleptomania, termasuk definisi, gejala, faktor risiko, dan pendekatan pengobatannya.

Apa Itu Kleptomania

Kleptomania adalah gangguan impuls kontrol yang memicu dorongan tak terkendali untuk mencuri barang-barang tertentu, meskipun individu tersebut menyadari tindakannya tidak pantas dan memiliki kemampuan finansial untuk membeli barang tersebut. Gangguan ini tidak dapat dijelaskan oleh motif ekonomi atau keinginan untuk balas dendam, melainkan lebih bersifat impulsif dan tidak dapat dikendalikan.

Kleptomania biasanya muncul di usia remaja, namun bisa juga terjadi ketika dewasa. Masalah mental ini termasuk dalam golongan gangguan kendali impulsif yang membuat pengidapnya sulit mengontrol emosi dan perilaku.

Perlu diketahui, perilaku pengidap kleptomania ini tidak bertujuan untuk menghasilkan uang atau mendapatkan keuntungan. Hasil curian tersebut sering kali juga tidak digunakan, melainkan hanya ditimbun, dibuang, atau diberikan kepada orang lain.

Umumnya, pengidap kleptomania akan merasa menyesal dan bersalah setelah melakukan tindakannya. Sayangnya, mereka tidak mampu menahan atau mengendalikan diri ketika keinginan tersebut kembali muncul. Sebab, mereka akan merasa cemas jika tidak melakukannya.

Gejala Kleptomania

Individu yang mengalami kleptomania cenderung mengalami kecemasan sebelum mencuri, diikuti oleh perasaan kelegaan saat tindakan mencuri dilakukan. Berbeda dengan pencuri pada umumnya, pengidap kleptomania umumnya menunjukkan karakteristik lain. Secara umum, beberapa gejala kleptomania adalah sebagai berikut:

  • Tidak memiliki daya untuk mengendalikan atau menolak dorongan mencuri barang.
  • Umumnya, barang yang dicuri tidak berharga atau tidak dibutuhkan, bahkan pengidap kleptomania sebenarnya mampu untuk membelinya.
  • Sering kali melakukan pencurian di tempat-tempat umum yang ramai, misalnya supermarket.
  • Kleptomania biasanya kambuh secara spontan, tanpa adanya rencana atau pemicu tertentu.
  • Setelah mencuri, pengidap kleptomania akan merasa bersalah, menyesal, marah pada diri sendiri, dan ketakutan.
  • Meski setelahnya merasa bersalah, keinginan mencuri tersebut akan muncul kembali yang membuat penderitanya tidak mampu menolak.
  • Keinginan untuk mencuri muncul terus-menerus sehingga terjadi pengulangan siklus kleptomania.
  • Meningkatnya rasa cemas dan tegang sebelum melakukan tindakan pencurian.

Faktor Risiko Kleptomania

Meskipun penyebab pasti kleptomania masih belum sepenuhnya dipahami, beberapa faktor risiko telah diidentifikasi. Riwayat keluarga dengan gangguan mental, ketidakseimbangan kimia otak, dan adanya stres emosional dapat berperan dalam perkembangan kleptomania.

Sementara itu, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengidap penyakit kleptomania adalah:

  • Menderita gangguan mental lainnya, seperti gangguan cemas, depresi, atau gangguan kepribadian (bipolar disorder).
  • Memiliki keluarga dengan riwayat kleptomania, penyalahgunaan NAPZA, atau kecanduan alkohol.
  • Memiliki trauma masa kecil.
  • Menerima pola asuh orang tua yang lalai atau kasar.
  • Mengalami gangguan otak, misalnya epilepsi.

Penyebab Kleptomania

Hingga kini, belum diketahui secara pasti apa penyebab kleptomania. Namun, terdapat dugaan bahwa kondisi ini dapat dipengaruhi oleh terganggunya senyawa kimia di otak, seperti:

  • Ketidakseimbangan sistem opioid yang mengakibatkan keinginan untuk mengambil barang atau mencuri tidak dapat ditahan.
  • Menurunnya kadar serotonin atau senyawa kimia otak yang berperan mengendalikan emosi dan suasana hati.
  • Terganggunya proses pelepasan dopamin atau senyawa kimia otak yang menciptakan rasa senang dan bahagia.

Cara Menyembuhkan Kleptomania

Pengobatan kleptomania melibatkan kombinasi terapi kognitif perilaku dan penggunaan obat-obatan tertentu. Terapi ini bertujuan untuk membantu individu mengidentifikasi pemicu impulsif, mengembangkan strategi pengendalian diri, dan mengelola stres secara efektif. Beberapa jenis obat, seperti serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), juga dapat membantu mengurangi gejala kleptomania.

Kleptomania membutuhkan penanganan medis karena kondisi ini tidak bisa diatasi seorang diri. Apabila tidak ditangani, kondisi ini akan kambuh terus-menerus. Sebagai penanganan kleptomania, dokter biasanya meresepkan obat-obatan dan melakukan psikoterapi.

Jenis psikoterapi yang paling sering digunakan untuk menyembuhkan kleptomania adalah terapi perilaku kognitif. Terapi ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada pasien terkait perbuatan yang dilakukannya serta dampak buruk yang bisa diterima.

Melalui terapi ini, diharapkan pasien menyadari bahwa tindakan pencurian merupakan perilaku negatif yang harus dihentikan, sehingga motivasi untuk tidak mencuri lagi semakin tinggi. Pasien juga akan diajarkan cara untuk melawan keinginannya tersebut.

Dalam menghadapi kleptomania, pemahaman mendalam tentang gangguan ini dapat membantu mengurangi stigma dan meningkatkan dukungan terhadap individu yang mengalaminya. Artikel ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang bermanfaat tentang kleptomania, mempromosikan kesadaran, dan mendorong diskusi terbuka mengenai kesehatan mental.

Untuk mendapatkan bantuan menangani masalah kesehatan mental silahkan hubungi HelpLine : 085829293939, Atau buat janji temu di Smartalent Psychology Art Center dengan klik link berikut : https://wa.link/vh0phf

Tags :
Freebies
Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post :

Bunda Lucy - Psikolog Anak Jakarta

Bunda Lucy

Psikolog Profesional