Tahukah kamu? Keberadaan Gen Z kini semakin menjadi perbincangan dunia. Perubahan sosial yang dialami saat ini benar – benar berbeda dengan sebelumnya. Timbulnya ketidaksesuaian dalam lingkungan sosial dimasyarakat sehingga menciptakan kehidupan baru. Adanya sikap atau perilaku baru yang lahir dalam pola dimasyarakat yang bisa saja berdampak buruk atau baik. Generasi Z, yang terdiri dari individu yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, kini menjadi subjek pembicaraan hangat. Pertanyaannya, apakah kehadiran mereka membawa dampak positif ataukah malah mendalamkan kekhawatiran akan masa depan dunia?
Menghadapi kompleksitas tantangan global seperti perubahan iklim, krisis kesehatan, dan ketidaksetaraan sosial, generasi ini dihadapkan pada tanggung jawab yang besar. Sejauh mana mereka memberikan kontribusi nyata dalam menanggapi dan mengatasi masalah-masalah ini? Ataukah kita dapat menyaksikan tren kepedulian sosial yang lebih rendah dari generasi ini? Tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan teknologi adalah bukti nyata Gen Z memiliki power luar biasa untuk membawa revolusi baru. Namun, dibalik itu seiring berjalannya waktu, mulai muncul sikap – sikap memprihatinkan pada Generasi Z. Ketidakpedulian yang dimiliki pada Gen Z menjadi ancaman dunia karena akan menjadi mimpi buruk dan membawa kehancuran. Ditambah lagi Gen Z kini banyak mengalami gangguan kesehatan mental akibat terlalu sering bermain sosial media. Dikenal sebagai generasi yang tumbuh dengan teknologi digital dan internet, Gen Z membawa perubahan signifikan dalam budaya dan cara berkomunikasi. Berlomba – lomba memperlihatkan siapa yang paling unggul dalam unggahan akun media sosialnya sehingga menjadikan psikis mereka mulai terguncang. Menyeramkan bukan?
Benarkah Gen Z Semakin Individualis serta Apatis?
Kehadiran Gen Z juga menimbulkan pertanyaan kritis terkait etika dan moralitas. Apakah nilai-nilai tradisional tetap dihargai, ataukah generasi ini memperkenalkan. Bisa dikatakan pemikiran generasi milenial jauh lebih kritis dibandingkan Generasi Z. Karena sudah dipengaruhi oleh berbagai macam hal yang tak diduga. Kepada orang yang mereka kenal saja saat sedang berkumpul justru lebih mementingkan gadget dibandingkan untuk berkomunikasi dengan sekitarnya. Sosialisasi pada lingkup pendidikan akan terus diberikan, dan masyarakat luas. Menjaga keutuhan solidaritas kunci utama yang perlu diketahui. Jika saat ini teknologi yang hanya menjadi andalan Gen Z maka kita bisa memberikan postingan yang menyadarkan mereka bahwa individualis akan membawa kehancuran. Kehidupannya yang individualis menjadikan banyak tantangan baru yang harus diluruskan bersama-sama. Hanya dengan duduk manis, Gen Z mampu mengakses segalanya dan mencari kesenangannya sendiri melalui gadget masing-masing, keapatisan mereka ini telah disupport dengan kemajuan teknologi yang semakin serba instant dan cepat. Mereka tidak perlu bersusah payah, hingga mengeluarkan tenaga. Hal ini lah yang diduga menjadi penyebab Gen – Z menjadi generasi yang individualis.
Benarkah Gen Z Punya Keseatan Mental Yang Lemah ?
Kekuatan mental yang dimiliki oleh Generasi Z kian memudar, sudah banyak kasus yang terjadi bahwa anak muda saat ini mengalami gangguan jiwa bahkan sampai bunuh diri akibat stres yang dialaminya. Generasi Z, yang sering disebut sebagai “Digital Natives,” tengah menjadi fokus perbincangan luas, terutama terkait dengan kesehatan mental mereka. Menurut Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2022, 15,5 juta (34,9 persen) remaja mengalami masalah mental dan 2,45 juta (5,5 persen) remaja mengalami gangguan mental. Dari jumlah itu, baru 2,6 persen yang mengakses layanan konseling, baik emosi maupun perilaku. Dibuktikan dari data tersebut, masih banyak remaja yang membutuhkan konsultasi untuk penyembuhan mental health nya. Dampak dari rendahnya kesehatan mental pada Gen Z memicu tingginya kematian pada akhir – akhir ini, banyak kasus bunuh diri terjadi dikalangan Gen Z, dari yang dewasa, remaja dan bahkan anak-anak. Generasi Z dihadapkan pada tantangan baru dalam menjaga kesehatan mental mereka. Salah Satu hal yang menjadi penyebab melemahnya kesehatan mental Gen Z adalah Media Sosial. Dalam era di mana teknologi dan media sosial merajalela media sosial, menjadi tangan kanan bagi remaja untuk mencari hiburan disaat sedang kesepian. Namun, saat ekspektasi tak sesuai dengan harapan yang dipikirkan, maka mulai timbul keresahan pada setiap individu. Terutama, netizen media sosial Indonesia dapat dikategorikan netizen paling tidak sopan se-Asia Tenggara. sehingga banyak yang mendapatkan bully dan ejekan yang membuat konsidi psikis seseorang menjadi terpengaruh. Tidak hanya menjelajahi isu-isu yang ada, tetapi kita juga akan membahas upaya-upaya yang telah diambil untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental Generasi Z dan memberikan dukungan yang diperlukan.
Apakah Gen Z Pembawa Harapan atau Ancaman?
kita perlu menggali lebih dalam untuk memahami apakah Gen Z benar-benar dapat dianggap sebagai pendorong kemajuan ataukah lebih cenderung menjadi tantangan bagi stabilitas dan perkembangan dunia. Mari kita terus menyelidiki apakah kehadiran generasi ini benar-benar membawa dampak positif ataukah memberikan tekanan lebih lanjut pada sektor-sektor kunci global. Hal ini juga ada sangkut-pautnya dengan orangtua yang berperan dalam memuat pola asuh yang baik pada anak.
Untuk mendapatkan bantuan menangani masalah kesehatan mental silahkan hubungi HelpLine : 085829293939, Atau buat janji temu di Smartalent Psychology Art Center dengan klik link berikut : https://wa.link/vh0phf
