Perceraian merupakan peristiwa yang tidak hanya melibatkan kedua pasangan, tetapi juga memiliki dampak signifikan pada psikologi anak-anak yang terlibat. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi secara mendalam dampak psikologis yang mungkin dialami anak-anak akibat perceraian orangtua. Pemahaman yang lebih baik terhadap aspek-aspek ini dapat membantu kita mendukung perkembangan emosional dan psikologis mereka.
Perceraian memberikan dampak psikologi yang sangat besar kepada anak. Dunia anak adalah dunia yang sangat bergantung pada orang tua, terutama anak di usia 7-13 tahun yang mulai merasakan perbedaan ketika orang tuanya mendadak berpisah. Berada di dekat orang tua, menerima pengasuhan dari keduanya dan penerimaan dari lingkungan.
Dampak percerain orang tua pada anak akan berbeda-beda. Ada banyak faktor yang memengaruhinya, termasuk jenis kelamin, usia anak saat orangtua bercerai, kepribadian anak, serta riwayat hubungan anak dengan orangtua. Berikut adalah dampak psikologi anak akibat perceraian orangtua :
- Membedah Rasa Tak Aman
Perceraian sering kali menciptakan lingkungan di mana anak-anak merasa tidak aman. Ketidakpastian mengenai perubahan dalam kehidupan mereka, baik secara fisik maupun emosional, dapat memicu kecemasan yang signifikan. Bagaimana cara mereka menyikapi perubahan ini dapat memengaruhi persepsi mereka terhadap kestabilan dan keamanan.
- Marah Terhadap Dunia
Dampak orang tua bercerai pada anak bisa sampai kepada agresif yang sudah merusak seperti kemarahan tak wajar pada orang-orang di sekeliling dengan alasan supaya orang lain juga merasa tidak bahagia seperti yang dialaminya. Kemarahan-kemarahan tak wajar ini seringnya ditunjukkan dengan sengaja membuat kesal, bikin keributan di sekolah, memberontak terhadap aturan yang dibuat di rumah dan sekolah serta sengaja membuat orang di sekeliling marah.
- Dampak pada Kinerja Akademis
Psikologis anak-anak yang menghadapi perceraian orangtua juga dapat tercermin dalam kinerja akademis mereka. Stres dan distraksi yang muncul dari situasi keluarga yang sulit dapat menghambat konsentrasi dan motivasi belajar. Pembahasannya akan menggali hubungan antara dampak psikologis dan kinerja akademis, memberikan wawasan mendalam tentang pentingnya dukungan selama proses ini.
- Menjadi Pendiam
Keriangan serta keceriaan anak mendadak menjadi berkurang saat orang tuanya tidak bersama lagi. Ini disebabkan karena pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang disebutkan di atas yang membuatnya sibuk dengan pikiran kecilnya dan mengabaikan hal-hal di sekitarnya. Anak cenderung melamun dan tidak aktif seperti biasanya.
- Masalah Emosional
Menghadapi perceraian orang tua bisa membuat anak terganggu secara emosional. Hal ini terjadi karena anak akan mengalami perasaan sedih, bingung, kehilangan, takut, marah, yang semua saling bercampur aduk. Pada anak usia tertentu hal ini bisa sangat membingungkan dan menyakiti hati. Anak juga bisa merasa ditinggalkan dan merasa tidak dicintai lagi oleh orangtuanya.
- Gangguan Mental
Setelah orang tua bercerai, anak mungkin akan kehilangan kasih sayang dan perhatian penuh dari salah satu orang tuanya. Selain itu, ada banyak perubahan lain yang juga harus dijalani, termasuk berpindah rumah atau sekolah. Anak-anak dituntut untuk mulai beradaptasi lagi dengan lingkungan di tengah proses penerimaan bahwa orangtuanya tidak lagi bersama. Hal ini bisa membuat anak stres dan dalam jangka panjang bisa mengembangkan penyakit mental, seperti depresi atau gangguan kepribadian.
Itulah beberapa dampak perceraian orang tua yang bisa dialami anak. Meski sudah memutuskan untuk berpisah, ayah dan ibu tetap harus memperhatikan anak, terutama kondisi kesehatan fisik dan mentalnya.
Untuk mendapatkan bantuan menangani masalah kesehatan mental silahkan hubungi HelpLine : 085829293939, Atau buat janji temu di Smartalent Psychology Art Center dengan klik link berikut : https://wa.link/vh0phf
