Menjadi orang tua sudah pasti tidak terlepas dari pengasuhan terhadap anak yang sering disebut dengan parenting. Tentunya setiap orang tua memiliki gaya parenting yang berbeda yang dianggap paling cocok untuk diterapakan. Bisa jadi orang tua yang satu merasa pola asuh yang mereka anut efektif, sementara orang tua lain berpendapat sebaliknya dan merasa pola lain yang mereka praktikkanlah yang lebih efektif. Bukan mustahil juga jika ayah dan bunda punya pandangan yang berbeda dalam gaya parenting.
Setiap orangtua tentu ingin melindungi dan memastikan semua urusan anaknya berjalan dengan baik. Namun, jika upaya melindungi tersebut berlebihan, justru dampak buruk yang akan didapat. Pola asuh semacam ini disebut helicopter parenting atau dikenal dengan overprotective parenting.
Apa Itu Helicopter Parenting?
Helicopter parenting adalah pola asuh ketika orangtua terlalu berlebihan menjaga anaknya. Orangtua mengawasi setiap aspek kehidupan anak mereka secara konstan sehingga diibaratkan seperti baling-baling pada helikopter. Mereka akan melarang Anak bermain di luar karena takut anaknya terjatuh atau kotor, serta selalu ingin memantau gerak-gerik anak. Pola asuh ini ternyata dapat membawa dampak buruk bagi perkembangan anak.
Dalam konsep ini, para orangtua cenderung ‘melayang’ di atas anak-anak mereka, selalu siap untuk memberikan bantuan atau intervensi, bahkan dalam keputusan sehari-hari.
Ciri-Ciri Terjadi Helicopter Parenting?
Orang tua yang menerapkan helicopter parenting sebenarnya memiliki niat baik, dengan tujuan melindungi anak-anak mereka dari bahaya dan kegagalan. Berikut karakteristik orang tua dengan pengasuhan helicopter parenting :
- Keterlibatan Berlebihan
Orang tua dengan pola asuh helicopter parenting terlalu terlibat dalam kehidupan anak mereka, sering kali ikut campur tangan untuk memecahkan masalah atau membuat keputusan atas nama mereka.
- Pembuatan Keputusan
Orangtua helikopter cenderung membuat keputusan untuk anak-anak mereka, bahkan dalam situasi di mana anak seharusnya memiliki otonomi untuk memilih sendiri.
- Sifat Kepemilikan
Orang tua merasa sangat sayang hingga muncul sikap terlalu memilik anak-anaknya. Orangtua tidak membiarkan anak menjelajahi kemandiriannya dan membuat pilihan sendiri.
Dampak Buruk Helicopter Parenting
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa keterlibatan orang tua dalam kehidupan anak memang penting, namun keterlibatan itu tentunya juga ada batasnya. Meski mungkin niatnya baik, helicopter parenting lebih banyak memiliki dampak buruk bagi perkembangan anak, yaitu:
- Anak Tidak Bisa Menyelesaikan Masalahnya Sendiri
Hal ini karena orangtua selalu ikut campur dalam setiap tantangan yang dihadapi anak, sehingga keputusan yang diambil selalu bergantung kepada orangtua. Akibatnya, anak akan selalu mengandalkan orangtua dalam menentukan atau menyelesaikan sesuatu.
- Anak Jadi Penakut dan Tidak Percaya Diri
Orangtua yang selalu takut dan khawatir berlebihan, dapat membuat anak juga memiliki ketakutan yang sama. Keterlibatan orangtua dalam segala hal yang dilakukan anak bisa menjadikan anak takut untuk melakukan hal-hal tanpa pengawasan dari orangtua. Anak yang dulunya dibesarkan oleh orangtua yang selalu mengekang dan melarang akan tumbuh jadi pribadi yang berkecil hati, tidak percaya diri, takut mengambil risiko, dan tidak punya inisiatif
- Anak Mudah Stres Cemas
Survei yang dilakukan oleh Center for Collegiate Mental Health Pennsylvania State University, seperti dikutip dari The Mercury News, menunjukan bahwa gangguan cemas adalah masalah kesehatan jiwa yang sering dialami mahasiswa.
Dari hasil survei yang dilakukan terhadap seratus ribu mahasiswa tersebut, 55 persen mahasiswa menginginkan konseling tentang gejala kecemasan, 45 persen soal depresi, dan 43 persen soal stres. Salah satu penyebabnya ternyata adalah pola asuh orangtua yang selalu mengawasi berlebihan semua kegiatan akademis dan non-akademis anak.
- Anak Jadi Mudah Berbohong
Sikap orangtua yang terlalu mengekang bisa mendorong anak untuk berbohong. Pahamilah bahwa anak juga butuh ruang gerak yang cukup untuk mengembangkan diri. Jika ruang gerak itu dibatasi, anak akan mencari celah dan akhirnya sering berbohong supaya bisa lolos dari kekangan orangtua.
- Rendahnya Kepercayaan Diri
Anak-anak yang dibesarkan di bawah asuhan helicopter parenting mungkin mengalami kesulitan dengan kepercayaan diri. Karena mereka terbiasa mengandalkan orang tua untuk petunjuk dan pengambilan keputusan.
secara umum ada empat gaya parenting yang lazim dipraktikkan orang tua, yakni:
- Otoriter (komunikasi satu arah dari orang tua, fokus pada ketaatan, disiplin keras)
- Otoritatif (suportif dan komunikatif)
- Permisif (maklum pada sikap anak, tidak memaksakan aturan)
- Acuh tak acuh (kurang memperhatikan anak)
keempat pola asuh tersebut banyak pakar berpendapat bahwa gaya parenting otoritatif adalah yang paling baik. Sejumlah studi mendapati orang tua otoritatif lebih mungkin memiliki anak dengan tingkat kepercayaan diri tinggi dan meraih kesuksesan akademis. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoritatif juga punya keterampilan sosial lebih baik dan lebih mampu menyelesaikan masalah dalam hidup.
Itulah dampak buruk dari pola asuh helicopter parenting, bagi perkembangan anak. Jadi, pola asuh seperti ini sebaiknya dihindari. Melindungi dan mengawasi anak memang perlu, tetapi pastikan juga mereka punya ruang gerak untuk mengeksplorasi dan mengembangkan diri.
Untuk mendapatkan bantuan menangani perosalan Parenting keluarga dan masalah kesehatan mental silahkan hubungi HelpLine : 085829293939, Atau buat janji temu di Smartalent Psychology Art Center dengan klik link berikut : https://wa.link/vh0phf
