Psikolog Anak & Remaja – Bunda Lucy

OCPD vs OCD, Apa Perbedaannya

Meskipun nama OCD dan OCPD sangat mirip, kedua kondisi ini pada dasarnya berbeda. Perbedaannya cukup kentara dan tidak berkaitan satu sama lain. Cari tahu perbedaan keduanya di bawah ini.

Apa Itu OCPD Dan OCD

OCD atau obsessive compulsive disorder bisa diartikan sebagai gangguan mental yang ditandai dengan munculnya pikiran yang mengganggu secara terus-menerus. Munculnya pikiran ini adalah wujud obsesi terhadap suatu hal yang tidak atau kurang realistis. Obsesi tersebut sering kali menimbulkan kecemasan dan memicu perilaku berulang-ulang sebagai cara untuk mengatasi rasa cemas akibat obsesi yang dialaminya.

Sedangkan OCPD atau obsessive compulsive personality disorder adalah gangguan kepribadian yang menyebabkan seseorang memiliki pola pikir perfeksionisme berlebihan dan memiliki keinginan untuk mengendalikan semua aspek hidupnya. Orang dengan OCPD sangat fokus pada detail, keteraturan, keseragaman, atau daftar tertentu sehingga ia kadang jadi lupa akan tujuan utama melakukan sesuatu. Meskipun sifat perfeksionisme akan keteraturan terkesan baik, efek samping dari perilaku tersebut justru dapat menghambat produktivitas. Saking perhatiannya, ketika orang dengan OCPD melewatkan detail tertentu, ia malah akan menghentikan kegiatannya sama sekali karena merasa gagal

Secara sederhana, orang dengan OCD bertindak secara kompulsif (berulang-ulang tak terkendali) karena ada dorongan dari otak. Ini berbeda dengan OCPD di mana Anda mungkin tidak melakukan hal yang sama berulang-ulang kali, misalnya membereskan meja kerja.

Perbedaan gejala Gangguan OCPD dan OCD

Gejala yang dapat diperhatikan dari kedua gangguan di atas yaitu :

Orang dengan OCPD mengalami hal-hal seperti:

  • Adanya hasrat untuk memenuhi kebutuhan secara berlebihan demi kesempurnaan, sehingga menyebabkan tugasnya tidak dapat diselesaikan karena hasil pekerjaan tidak sesuai dengan standarnya yang sangat tinggi.
  • Terlalu terpaku pada detail-detail kecil, peraturan, urutan, daftar, dan jadwal secara berlebihan sehingga tujuan utama dari tugas yang harus dijalankan sering kali terlupakan.
  • Memiliki dedikasi yang berlebihan terhadap pekerjaan, sehingga mengabaikan atau mengorbankan keluarga atau teman.
  • Tidak mampu untuk menyingkirkan barang yang tidak lagi memiliki nilai (hoarding).
  • Menginginkan segala sesuatu dilakukan secara sempurna, sangat kaku, dan tidak fleksibel terhadap nilai-nilai moral, etika, dan aturan.
  • Tidak mampu bermurah hati pada orang lain dan keras kepala

Sementara itu penderita OCD biasanya mengalami hal-hal berikut.

  • Memiliki obsesi berupa pikiran, gambar, dan dorongan yang tidak diinginkan, sehingga menyebabkan tekanan dan rasa cemas pada dirinya secara ekstrem/intens.
  • Menyadari pikiran/obsesi mereka yang tidak masuk akal, tetapi mustahil atau tidak mampu untuk mengendalikannya.
  • Melakukan perilaku tertentu secara berulang untuk meredakan rasa cemasnya. Hal ini seperti mencuci tangan, memeriksa pintu yang sudah terkunci, mengatur posisi barang-barang tertentu, atau mengatakan suatu kalimat secara berulang-ulang.
  • Sering memiliki pikiran atau kekhawatiran terhadap sesuatu yang dapat berubah menjadi obsesi berlebihan sehingga mengganggu keberfungsian atau rutinitas kehidupan individu.
  • Rasa tenang yang diperoleh karena melakukan perilaku repetitif hanya bersifat sementara, dan rasa cemas akibat obsesi yang sama sering muncul kembali.

Perbedaan OCPD Dan OCD

Selain perbedaan pada gejalanya, ada kriteria-kriteria lain yang membedakan OCD dan OCPD. Simak penjelasannya di bawah ini.

  1. Alasan Melakukan Tindakan

Orang dengan OCD melakukan perilaku secara berulang (kompulsif) sebagai upaya untuk meringankan rasa kecemasan dan obsesi yang dirasakan. Namun, alasan orang dengan OCPD melakukan sesuatu secara fokus, teratur, dan mendetail adalah sebagai bentuk mereka untuk meningkatkan efisiensi aktivitas demi mencapai kesempurnaan.

  1. Kesadaran

Individu dengan OCD menyadari bahwa obsesi atau pikiran yang berlebihan tidak masuk akal, tetapi mereka tidak mampu mengendalikan pemikiran tersebut. Bahkan, individu dengan OCD berusaha untuk menghentikan pikiran atau obsesi tersebut, tetapi tidak dapat dihentikan. Individu dengan OCD menyadari bahwa perilaku kompulsif yang dilakukan berulang-ulang untuk mengurangi kecemasannya sudah sangat mengganggu rutinitas sehari-hari. Di sisi lain, individu dengan OCPD tidak menyadari bahwa perilaku dan kepribadian yang menginginkan kesempurnaan dapat mengganggu rutinitas ataupun memberikan dampak pada hubungan mereka dengan orang lain. Individu dengan OCPD memiliki standar yang terlalu tinggi (perfeksionis), menurut mereka, pemikiran dan perilakunya sudah yang paling tepat. Biasanya, ketika individu dengan OCPD bercerita dengan psikolog atau psikiater, mereka lebih berfokus pada perilaku orang lain yang tidak pernah bisa mengikuti standar kesempurnaan yang mereka harapkan.

  1. Dampak Terhadap Produktifitas

Gangguan OCD menyebabkan dampak negatif yang lebih serius karena obsesinya akan menghambat aktivitasnya sehari-hari. Sedangkan pada kebanyakan kasus, orang dengan OCPD bisa-bisa saja tetap produktif dalam bekerja.

  1. Tekanan Emosional

Obsesi yang dirasakan pada orang dengan OCD disadari sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan dan membuat individu tersebut merasa cemas berlebihan. Sebaliknya, orang dengan OCPD menikmati waktu-waktu ketika mereka harus mengerjakan, mengatur, menyusun, dan menyempurnakan sesuatu secara detail, meskipun menghabiskan banyak waktu.

Berkonsultasi dengan tenaga medis profesional merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui diagnosis yang tepat dan penanganan yang sesuai dengan gejala yang dimiliki seseorang. Untuk mendapatkan bantuan menangani masalah kesehatan mental Anda Bisa hubungi HelpLine : 085829293939, Atau buat janji temu di Smartalent Psychology Art Center dengan klik link berikut : https://wa.link/vh0phf

Tags :
Freebies
Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post :

Bunda Lucy - Psikolog Anak Jakarta

Bunda Lucy

Psikolog Profesional